Guru Tua Wakafkan Seluruh Hidup dan Harta Demi Perjuangan

waktu baca 2 menit

PALU, KABAR ALKHAIRAAT – Peringatan Haul ke-58 Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua Alkhairaat menjadi momentum refleksi mendalam atas pengabdian sang ulama yang mewakafkan seluruh hidupnya demi kepentingan umat. Acara yang berlangsung di Kompleks PB Alkhairaat, Jalan SIS Aljufri, Palu Barat pada Rabu (01/04) ini menekankan pentingnya meneladani jejak para salihin.

Ketua Utama PB Alkhairaat, HS Alwi bin Saggaf Aljufri, menegaskan bahwa kehadiran jemaah bukan sekadar seremonial. Ia mengajak umat membulatkan tekad untuk mengikuti keteladanan sosok yang telah berjasa besar dalam membangun pendidikan dan dakwah di tanah air.

“Meneladani bagaimana guru tua mengisi kehidupannya serta bagaimana sosok guru tua mengisi hidupnya begitu berarti, berguna untuk kepentingan orang banyak, mengajar, membangun sekolah, madrasah, mempersiapkan tenaga pengajar,” ujar HS Alwi bin Saggaf Aljufri, Ketua Utama Alkhairaat.

Menurutnya, keteladanan Guru Tua Alkhairaat tidak lepas dari tradisi para ulama salaf yang menjadikan keikhlasan sebagai landasan utama. Kisah perjuangan beliau dalam mencetak generasi pendidik melalui madrasah dan pesantren merupakan manifestasi nyata dari nilai-nilai kesucian hati.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk meneladani dan menjadikan mereka orang-orang salihin dari para salaf kita sebagai teladan kita. Merekalah orang-orang yang telah Allah berikan petunjuk kepada mereka. Maka ikutilah petunjuk mereka,” lanjut HS Alwi bin Saggaf Aljufri.

Ia juga menyoroti bagaimana Guru Tua Alkhairaat mengorbankan segala kenyamanan duniawi. Sang ulama tidak hanya berdakwah, tetapi juga mencari nafkah untuk membiayai operasional sekolah bahkan membantu biaya pernikahan murid-muridnya agar syiar Islam terus berjalan.

“Semua yang ia dapatkan dan capai dalam perjuangannya, beliau wakafkan untuk umat,” tegas HS Alwi bin Saggaf Aljufri.

Perjuangan tersebut diwarnai tantangan berat, termasuk perjalanan dakwah ke wilayah Maluku Utara dan Kalimantan menggunakan kendaraan sederhana. Meski di usia yang tidak lagi muda, Guru Tua tetap konsisten membelah ombak demi menyampaikan pesan kebaikan kepada masyarakat luas.

“Beliau memangkas kenikmatan hidup hanya demi tersampaikan pesan kebaikan untuk sesama,” kata HS Alwi bin Saggaf Aljufri.

Menghadapi tantangan zaman seperti maraknya hoaks dan degradasi moral, Alwi mengingatkan bahwa nilai keikhlasan adalah kunci. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab besar untuk menjaga dan melanjutkan warisan perjuangan Guru Tua kini berada di tangan generasi saat ini.