Habib Alwi Lepas Dai Ramadhan PPIA ke Pelosok

waktu baca 2 menit

PALU – Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayid. Alwi bin Saggaf Aljufri, secara resmi melepas tim Safari Ramadan 1447 Hijriah, di kompleks makam pendiri Perguruan Islam Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, di Palu.

Pelepasan puluhan dai muda tersebut, turut dihadiri Ketua Umum PB Alkhairaat Habib Mohsen Alaydrus, Ketua PB Alkhairaat KH. Husen Habibu, Sekretaris Yayasan Alkhairaat Sis Aljufri Ustad Asgar Basir Khan, serta sekretaris Majelis Pendidikan PB Alkhairaat Ustad Ahmad Hadi Rumi.

Dalam amanatnya, HS. Alwi menegaskan bahwa, para dai muda Alkhairaat memiliki nasab keilmuan yang jelas dan bersambung, sehingga harus tampil membawa pesan dakwah yang santun dan berakhlak.

“Kalian ini memiliki nasab ilmu yang jelas. Maka masyarakat harus diberikan pengetahuan yang luas dan contoh akhlak seperti Rasulullah. Jadi kalian semua ini nasabnya jelas,” tegasnya.

Habib mengingatkan pentingnya disiplin selama menjalankan Safari Ramadan, baik saat mengisi ceramah tarawih, kultum subuh, maupun kegiatan keagamaan lainnya di sejumlah kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong.

“kakuja jadi contoh jadi jangan habis sahur tidur lagi, sementara jamaah sudah menunggu di masjid. Disiplin itu penting,” ujarnya.

Ketua Utama juga menekankan pentingnya menjaga kerapian dan identitas sebagai dai muda Alkhairaat. Menurutnya, penampilan yang rapi mencerminkan pribadi terpelajar dan menjadi bagian dari dakwah bil hal atau keteladanan.

“Rapi itu menunjukkan terpelajar. Kalian bukan seniman, kalian dai. Jaket dan atribut yang dipakai itu bukan sekadar kain, tapi identitas. Di situ ada nama Alkhairaat yang harus dibanggakan,” katanya.

Selain itu, Habib mengajak para santri untuk membawa nama Alkhairaat dalam setiap langkah pengabdian. Nama tersebut lanjutnya, harus melekat dalam hati sanubari warga Alkhairaat, tercermin dalam sikap, tata krama, dan keteladanan.

Ia juga mengingatkan bahwa, dakwah bukan hanya soal penyampaian materi, tetapi juga integritas pribadi. Seorang dai, ujar Habib, harus menjadi panutan dalam ucapan dan perbuatan.

“Jangan sampai kita melarang sesuatu, tapi kita sendiri melakukannya. Dai itu panutan. Apa yang disampaikan harus selaras dengan perbuatan,” tegasnya.

Selain itu, para dai diminta menyiapkan tema-tema Ramadan secara terstruktur, memahami kondisi masyarakat setempat, serta melatih kemampuan public speaking agar pesan dakwah tersampaikan dengan baik.

Habib mengingatkan bahwa, setiap langkah dakwah pasti menghadapi tantangan, namun hal itu menjadi bagian dari perjuangan di jalan yang diridhai Allah.

“Jangan ukur besarnya tekanan, tapi ukur besarnya keridhaan Allah SWT. Masalah kita kecil karena kita punya Rabb Yang Maha Besar,” tandasnya.***